Senin, 19 September 2016

Membedah Kepemimpinan Gus Dur- Gus-Miek

Judul buku :Leadership Secrets of Gus Dur- Gus-Miek
Penulis :M.N. ibad
Penerbit :LKIS, Yogyakarta
Cetakan :Pertama, 2012
Tebal buku :214 halama
Peresensi :Danuji Ahmad

Tasorroful Imam Alarroiyyah Manuthun Bil maslakhah (pengelolaan negara terhadap yang di pimpin berhubungan dengan kemaslahatan. Begitulah kira-kira teori Hukum Islam ketika membicarakan ihwal kepemimpinan. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang terindikasikan dengan wujudnya kemaslahatan disegala lini kehidupan; hukum, politik, ekonomi dan disegalini sendi kehidupan lainnya. Sedangkan adanya ketimpangan dan diskrimanis untuk kepentingan kelompok tertentu, golongan tertentu, partai tertentu adalah tidak sejalan dari apa yang dinamakan model kepemimpinan yang ideal.

Pemimpin yang ideal dalam teori tersebut, adalah pemimpin yang mampu mengakomudir dan merangkul setiap kelompok. Ia tidak hanya mementingkan kelompoknya sendiri, golongannya sendiri, oganisasinya sendiri, dan partainya sendiri,  tetapi seluruh lapisan masyarakat yang dipimpinya. Dengan demikian kemaslahatan atau Wilfare State (negara kesejahteraan ) yang dicita-cita para pendiri bangsa itu akan terwujud. Sudah pasti, membaca kepemimpinan Indonesia dari sudut pandang teori ini adalah perlu ada evalusi yang tidak sedikit. Artinya masih banyak lumbang-lumbang yang perlu kita tambal untuk mewujudnya adanya pemerintahan yang baik dan bersih (good governace). yang kemudian berbuah kesejahteraan.

Negara penganut sistem presidensiil, layaknya Indonesia, pemimpin akan menjadi tulang punggung jalanya pemerintahan. Efeknya pemimpin diberi tanggung jawab yang tidak sedikit ihwal bagaimana menentukan kebijakan, keputusan, dan gaya memimpin yang ditampilkan. Pemimpin yang tidak kridibel akan memberikan efek besar bagi bobroknya sebuah bangsa. Ketergantungan yang cukup besar terhadap pemimpin inilah, kridibilitas seorang pemimpi itu benar-benar dipertaruhkan.

Buku yang berjudul Leadership Secrets of Gus Dur- Gus-Miek karya M.N.Ibad ini akan berusaha mengupas dan mencari sebuah format model-model kepemimpinan yang membumi dan bisa dicintai rakyat. Gus Dur dan Gus Miek dijadikan kajian dalam buku ini karena dinilai layak menjadi sosok pemimpin mampu memberikan dampak nyata bagi orang yang dipimpinnya. Bahkan lebih jauh buku ini akan memberikan resep prinsip-prinsip yang mengantarkan Gus Dur dan Gus Miek menjadi pemimpin yang sejati dan sukses. Hingga di akhirnya hayatnya dan kepergiannya dua tokoh ini begitu digandrungi oleh segenap masyarakat
.
Dua tokoh ini memang memiliki cakupan yang berbeda dalam pemimpin. Gus Miek sebagai representasi pemimpin lokal. Sedangkan Gus Dur sebagai representasi pemimpin nasional. Gus Mek menjadi guru sekaligus pemimpin spiritual bagi masyarakat akar rumput. Berasal dari trah putra kia yang lahir di Kediri Jawa Timur 1940, Gus Miek memilih jalan sunyi dengan meninggalan dunia ke-kiaianya berdakwah kedunia lembah hitam kemasiatan untuk dan memberikan advokasi terhadap kaum papa dan orang-orang yang berlaku menyimpang.

Adalah mulai diskotik, arena perjudian, hingga lokalisasi. Gus Meik merehabilitasi mereka dengan pendekatan yang humanis. Gus Miek mendatangi tempat itu dari Jakarta hingga Situbondo. Akhirnya, dakwah nya itu banyak menuai keberhasilan. Pun Gus Meik akhirnya mendirikan perkumpulan Jantiko Mantab dan Jamaah Dzikrul Ghofilin untuk semua lapisan masyarakat. Sedangkan Gus Dur berjuang di tingkat nasional.

Putra dari K.H Wahid Hasyim dan cucu Pendiri Jamiyyah Nahdlatu Ulama, K.H. Hasyim Asyari mengawali karirnya menjadi ketua umum PBNU. Hingga di akhir karirnya Gus Dur menjadi presiden Republik Indonesia bersama kendaraan politiknya; Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Baik Gus Dur dan Gus Miek memaknai pemimpin adalah sebagai wasilah untuk mewujudnya tujuan hakiki yaitu; memimpin umat yang di pimpinnya. Bukan semata mencari kesenangan dan kekuasan semata. Tetapi bertujuan untuk menyejahterakan umat.

Gaya yang ditampilkan dalam menjalankan kepemimpinanpun kedua tokoh ini sangat unik. Gus dur dan Gus Mek lebih bersifat membumi terhadap rakyat atau masyarakat yang dipimpinya. Model kepemimpinan inilah yang kemudian membuat mereka dekat dihati masyarakat. Dalam istilah Gus Miek “bisa gaul “sedangkan Gus Dur mengistilahkan sebagai “memanusiakan manusia”. Dampak yang diberikanpun sangat positif, karena kedekatan itu kemudian permasalah-permasalah yang dihadapi masyarakat bisa di akomudir dengan tepat.

itulah salah satu gaya kepemimpinan yang ditampilkan mereka. Gus Meik menekankan jamiyah ritual keagaman sedangkan Gus Dur keorganisasian dan politik nasional . Tetapi inti dari model kepemimpian mereka sebenarnya menekankan pada aspek kepentingan umat.

Buku karya kang Ibad ini akan mengajak para pembaca untuk membongkar prinsip-prinsip yang mengantarkan Gus-Dur dan Gus Miek menjadi pemimpin sejati. Pemimpi yang dicintai rakyat. Pemimpin yang mampu mengayomi seluruh elemen masyarakat. Membawa nilai-nilai kemanusiaan dan perubahan. Perubahan-perubahan yang dilakukan dua tokoh ini telah menyentuh hati masyarakat yang dipimpinnya.


Memori Gus Dur dan Gus Miek ihwal membangun masyarakat nampaknya begitu sulit untuk di hilangkan. Wajar meski dua tokoh telah lama pergi, masyarakat masih tetap mengenangnya. kiat sukses Gus Dur dan gus miek menampilkan gaya kepemimpinnya itulah di dalam buku ini dibahas secara komprehensif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar