Judul buku :Leadership Secrets of Gus Dur- Gus-Miek
Penulis :M.N. ibad
Penerbit :LKIS, Yogyakarta
Cetakan :Pertama, 2012
Tebal buku :214 halama
Peresensi :Danuji Ahmad
Tasorroful Imam Alarroiyyah Manuthun Bil maslakhah (pengelolaan negara
terhadap yang di pimpin berhubungan dengan kemaslahatan. Begitulah kira-kira
teori Hukum Islam ketika membicarakan ihwal kepemimpinan. Kepemimpinan yang
baik adalah kepemimpinan yang terindikasikan dengan wujudnya kemaslahatan
disegala lini kehidupan; hukum, politik, ekonomi dan disegalini sendi kehidupan
lainnya. Sedangkan adanya ketimpangan dan diskrimanis untuk kepentingan
kelompok tertentu, golongan tertentu, partai tertentu adalah tidak sejalan dari
apa yang dinamakan model kepemimpinan yang ideal.
Pemimpin yang ideal dalam teori tersebut, adalah pemimpin yang mampu
mengakomudir dan merangkul setiap kelompok. Ia tidak hanya mementingkan
kelompoknya sendiri, golongannya sendiri, oganisasinya sendiri, dan partainya
sendiri, tetapi seluruh lapisan masyarakat
yang dipimpinya. Dengan demikian kemaslahatan atau Wilfare State (negara
kesejahteraan ) yang dicita-cita para pendiri bangsa itu akan terwujud. Sudah
pasti, membaca kepemimpinan Indonesia dari sudut pandang teori ini adalah perlu
ada evalusi yang tidak sedikit. Artinya masih banyak lumbang-lumbang yang perlu
kita tambal untuk mewujudnya adanya pemerintahan yang baik dan bersih (good
governace). yang kemudian berbuah kesejahteraan.
Negara penganut sistem presidensiil, layaknya Indonesia, pemimpin akan
menjadi tulang punggung jalanya pemerintahan. Efeknya pemimpin diberi tanggung
jawab yang tidak sedikit ihwal bagaimana menentukan kebijakan, keputusan, dan
gaya memimpin yang ditampilkan. Pemimpin yang tidak kridibel akan memberikan
efek besar bagi bobroknya sebuah bangsa. Ketergantungan yang cukup besar
terhadap pemimpin inilah, kridibilitas seorang pemimpi itu benar-benar
dipertaruhkan.
Buku yang berjudul Leadership Secrets of Gus Dur- Gus-Miek karya
M.N.Ibad ini akan berusaha mengupas dan mencari sebuah format model-model
kepemimpinan yang membumi dan bisa dicintai rakyat. Gus Dur dan Gus Miek
dijadikan kajian dalam buku ini karena dinilai layak menjadi sosok pemimpin
mampu memberikan dampak nyata bagi orang yang dipimpinnya. Bahkan lebih jauh buku
ini akan memberikan resep prinsip-prinsip yang mengantarkan Gus Dur dan Gus
Miek menjadi pemimpin yang sejati dan sukses. Hingga di akhirnya hayatnya dan
kepergiannya dua tokoh ini begitu digandrungi oleh segenap masyarakat
.
Dua tokoh ini memang memiliki cakupan yang berbeda dalam pemimpin. Gus
Miek sebagai representasi pemimpin lokal. Sedangkan Gus Dur sebagai
representasi pemimpin nasional. Gus Mek menjadi guru sekaligus pemimpin
spiritual bagi masyarakat akar rumput. Berasal dari trah putra kia yang lahir
di Kediri Jawa Timur 1940, Gus Miek memilih jalan sunyi dengan meninggalan
dunia ke-kiaianya berdakwah kedunia lembah hitam kemasiatan untuk dan
memberikan advokasi terhadap kaum papa dan orang-orang yang berlaku menyimpang.
Adalah mulai diskotik, arena perjudian, hingga lokalisasi. Gus Meik
merehabilitasi mereka dengan pendekatan yang humanis. Gus Miek mendatangi
tempat itu dari Jakarta hingga Situbondo. Akhirnya, dakwah nya itu banyak
menuai keberhasilan. Pun Gus Meik akhirnya mendirikan perkumpulan Jantiko
Mantab dan Jamaah Dzikrul Ghofilin untuk semua lapisan masyarakat. Sedangkan
Gus Dur berjuang di tingkat nasional.
Putra dari K.H Wahid Hasyim dan cucu Pendiri Jamiyyah Nahdlatu Ulama,
K.H. Hasyim Asyari mengawali karirnya menjadi ketua umum PBNU. Hingga di akhir
karirnya Gus Dur menjadi presiden Republik Indonesia bersama kendaraan
politiknya; Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Baik Gus Dur dan Gus Miek memaknai
pemimpin adalah sebagai wasilah untuk mewujudnya tujuan hakiki yaitu; memimpin
umat yang di pimpinnya. Bukan semata mencari kesenangan dan kekuasan semata.
Tetapi bertujuan untuk menyejahterakan umat.
Gaya yang ditampilkan dalam menjalankan kepemimpinanpun kedua tokoh ini
sangat unik. Gus dur dan Gus Mek lebih bersifat membumi terhadap rakyat atau
masyarakat yang dipimpinya. Model kepemimpinan inilah yang kemudian membuat
mereka dekat dihati masyarakat. Dalam istilah Gus Miek “bisa gaul “sedangkan
Gus Dur mengistilahkan sebagai “memanusiakan manusia”. Dampak yang diberikanpun
sangat positif, karena kedekatan itu kemudian permasalah-permasalah yang
dihadapi masyarakat bisa di akomudir dengan tepat.
itulah salah satu gaya kepemimpinan yang ditampilkan mereka. Gus Meik
menekankan jamiyah ritual keagaman sedangkan Gus Dur keorganisasian dan politik
nasional . Tetapi inti dari model kepemimpian mereka sebenarnya menekankan pada
aspek kepentingan umat.
Buku karya kang Ibad ini akan mengajak para pembaca untuk membongkar
prinsip-prinsip yang mengantarkan Gus-Dur dan Gus Miek menjadi pemimpin sejati.
Pemimpi yang dicintai rakyat. Pemimpin yang mampu mengayomi seluruh elemen
masyarakat. Membawa nilai-nilai kemanusiaan dan perubahan. Perubahan-perubahan
yang dilakukan dua tokoh ini telah menyentuh hati masyarakat yang dipimpinnya.
Memori Gus Dur dan Gus Miek ihwal membangun masyarakat nampaknya begitu
sulit untuk di hilangkan. Wajar meski dua tokoh telah lama pergi, masyarakat
masih tetap mengenangnya. kiat sukses Gus Dur dan gus miek menampilkan gaya
kepemimpinnya itulah di dalam buku ini dibahas secara komprehensif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar